Tanggapan SPPG Sipatana Soal Menu MBG di MTsN 1 Kota Gorontalo: Sudah Sesuai Juknis dan Standar Gizi

SPPG Sipatana saat memberikan Tanggapan Soal Menu MBG di MTsN 1 Kota Gorontalo. (Foto : Redaksi)

LISANRAKYAT.COM , GORONTALO – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sipatana Kota Gorontalo memberikan tanggapan terkait sorotan sejumlah orang tua murid atas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Kota Gorontalo.

Kepala SPPG Muhamad bilal Racman, S.Tr.Kes menegaskan bahwa menu yang dibagikan kepada siswa telah melalui kajian ahli gizi dan disusun berdasarkan Petunjuk Teknis (Juknis) Gizi yang berlaku dalam program MBG.

“Menu yang diberikan berupa ubi (batata), telur ayam rebus, kacang, dan buah duku. Komposisi tersebut sudah dikonfirmasi bersama ahli gizi dan telah sesuai dengan gramasi yang ditentukan dalam standar program,” Ujar Bilal.

Sesuai 20–30 Persen Angka Kecukupan Gizi

Sementara itu verdasarkan penjelasan ahli gizi yang mendampingi program, menu tersebut dirancang untuk memenuhi 20–30 persen Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian anak, sesuai ketentuan program MBG.

Komposisi makanan juga telah memenuhi prinsip gizi seimbang, meliputi:

• Karbohidrat: Ubi jalar kukus

• Protein hewani: Telur ayam rebus

• Protein nabati: Kacang

Baca Juga :  Andi Ilham Resmi Menjabat Bendahara MUI Gorontalo 2025–2030, Siap Jalankan Amanah secara Sinergis

• Serat: Buah duku, ubi, dan kacang (menyumbang hingga 15 persen kebutuhan serat)

Ahli gizi SPPG Sipatana Nurhaliza Dwisyahputri Madjid, S.Gz., Dietisien menjelaskan pemilihan ubi bukan tanpa alasan. Selain memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, ubi juga merupakan pangan lokal yang menjadi bagian dari tradisi konsumsi masyarakat Gorontalo.

“Penggunaan ubi bertujuan mengenalkan keanekaragaman pangan lokal kepada siswa, sekaligus menjadi variasi dari menu nasi (menu basah). Ini juga sejalan dengan arahan diversifikasi pangan dari Badan Pangan Nasional,” terang Liza.

Porsi Disesuaikan Usia Siswa

Nurhaliza juga menambahkan bahwa porsi makanan telah disesuaikan berdasarkan jenjang usia peserta didik, yakni:

• TK & SD Kelas 1–3 (Porsi kecil):

Ubi ±100 gram dan 3 buah duku.

• SD Kelas 4 hingga SMA (Porsi besar):

Ubi ±200 gram dan 4 buah duku.

Terkait laporan adanya siswa yang menerima hanya dua atau tiga buah duku, pihak SPPG menyebut hal itu kemungkinan disebabkan faktor teknis saat distribusi atau ukuran buah yang lebih besar dari standar.

Baca Juga :  Ribuan Koko’o Bergema di Bundaran Saronde, Warga Gorontalo Semarakkan Tradisi Toki Sahur

“Porsi standar untuk anak besar adalah empat buah duku. Namun jika ukuran dukunya sangat besar, bisa saja menjadi tiga. Jika ada laporan dua buah, itu bisa jadi faktor teknis di lapangan atau buah tersebut sudah dikonsumsi sebagian oleh siswa,” Tambah Liza.

Utamakan Kebersihan dan Keamanan Pangan

bilal Racman menegaskan bahwa selain memperhatikan kandungan gizi, pihaknya juga memprioritaskan aspek kebersihan dan keamanan pangan.

“Mungkin secara tampilan visual ada yang menilai kurang menarik. Tetapi fokus kami bukan sekadar looks, melainkan kebersihan dan keamanan makanan. Seluruh makanan dikemas menggunakan plastik dan mika untuk mencegah kontaminasi,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa sebelum distribusi dilakukan, asisten lapangan telah berkoordinasi langsung dengan pihak sekolah, termasuk guru-guru di MTsN 1 Kota Gorontalo.

“Pada saat distribusi berlangsung, pihak sekolah maupun guru tidak mempermasalahkan menu yang diberikan,” tambahnya.

Evaluasi Tetap Dilakukan

Menanggapi keluhan yang beredar di media sosial, Bilal menyebut bahwa sebagian besar masukan muncul setelah siswa membawa pulang makanan dan diperlihatkan kepada orang tua.

Baca Juga :  DPC PDIP Kota Gorontalo Resmikan Kantor Baru, Simbol Semangat perjuangan.

“Kami menghargai setiap masukan dari orang tua. Keluhan terkait jumlah buah maupun penyajian menjadi bahan evaluasi internal agar ke depan pelaksanaan program semakin baik,” ungkapnya.

Bilal menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengawasan dan evaluasi berkala demi memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik.

“Program ini bertujuan baik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Kami akan terus berbenah dan terbuka terhadap masukan demi perbaikan bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *